Tanah Lot


Tanah Lot Bali
Obyek wisata Tanah Lot terletak di kabupaten Tabanan Bali, Pura Tanah Lot merupakan tujuan wisata yang wajib di kunjungi di pulau Bali dengan panorama yang indah dan tempat yang bagus untuk melihat atau menikmati keindahan sunset atau matahari terbenam.


Menurut Sejarahnya Pura Tanah Lot dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa, yaitu Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu, penguasa Tanah Lot yang bernama Bendesa Beraben merasa iri kepadanya karena para pengikutnya mulai pergi untuk mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben kemudian menyuruh Danghyang Nirartha meninggalkan Tanah Lot. Danghyang Nirartha menyanggupi, tetapi sebelumnya ia membangun pura di sana dan melanjutkan perjalanan terahirnya menuju Pura Ulu Watu dan akhirnya Moksa di Pura Tersebut namun sebelum kepergiannya akhirnya disebutkan bahwa Bendesa Beraben menjadi pengikut Danghyang Nirartha dan menjalakan ajaran agama Hindu.

Tanah lot sempat mengalami abrasi dan pengikisan akibat ombak dan angin. Pemerintah Bali melalui Proyek Pengamanan Daerah Pantai Bali melakukan memasang tetrapod sebagai pemecah gelombang dan memperkuat tebing di sekeliling pura berupa karang buatan. Daerah di sekitar Tanah Lot juga ditata mengingat peran Tanah Lot sebagai salah satu tujuan wisata di Bali. Renovasi pertama dilakukan sejak tahun 1987 sebagai proyek perlindungan tahap I. Pada tahap ini, pemecah gelombang (tetrapod) seberat dua ton diletakkan di depan Pura Tanah Lot. Selain itu, bantaran beton serta dinding buatan juga dibangun sebagai pelindung hantaman gelombang. Namun, peletakan tetrapod mengganggu keindahan dan keasrian alam di sekitarnya sehingga diadakan studi kelayakan dengan melibatkan tokoh agama dan masyarakat setempat pada tahun 1989. Desain bangunan pemecah gelombang di bawah permukaan air dan pembuatan karang buatan dibuat pada tahun 1992 dan diperbaharui lagi pada tahun 1998. Perlindungan pura mulai dilaksanakan sekitar bulan Juni 2000 dan selesai pada Februari 2003 melalui dana bantuan pinjaman Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar Rp95 miliar. Keseluruhan pekerjaan meliputi bangunan Wantilan, Pewaregan, Paebatan, Candi Bentar, penataan areal parkir, serta penataan jalan dan taman di kawasan tanah lot.
(dikutip dari wikipedia)